Rabu, 06 Januari 2010

SEJARAH SINGKAT HAJI


Secara harfiah haji berarti pergi ke suatu tempat. Secara istilah agama Islam mengacu pada ibadah tahunan yang dilakukan umat Islam ke Mekkah denga tujuan menyelengarakan ritual agama menurut cara yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Haji dan tata caranya diperintahkan oleh Allah sejak zaman Nabi Ibrahim dan beliau salah seorang yang dipercaya Allah membangun Ka’bah (rumah Allah) dengan anaknya Ismail di Mekkah. Allah menguraikan pembangunan Ka’bah dalam QS 22:26.
Setelah membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim datang ke Mekkah menunaikan ibadah haji setiap tahun hingga beliau meninggal. Kemudian ibadah ini dilanjutkan anaknya. Seiring perjalanan waktu, bentuk dan tujuan ritual haji berubah. Perilaku kemusrikan berangsur-angsur merambah Arabia. Ka’bah kehilangan kesucian dan banyak berhala ditempatkan di samping Ka’bah. Dinding Ka’bah tertutupi syair-syair dan lukisan. Termasuk diantaranya Jesus dan ibunya, Maryam dan bahkan ada lebih 360 patung berada di sekitar Ka’bah.
Nabi Muhammad SAW bin Abdullah lahir sebagaimana permohonan Nabi Ibrahim pada abad awal. Selama 23 tahun Nabi Muhammad menyebarkan pesan tauhid-sama dengan pesan tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim dan semua nabi-dan menetapkan hukum Allah di muka bumi. Beliau mencurahkan segala usaha untuk menegakkan kalimah Allah dan kemenangan tertinggi adalah robohnya berhala-berhala di sekitar Ka’bah dan menjadikannya pusat peribadatan untuk mengEsakan Tuhan.
Tidak hanya membersihkan Ka’bah dari kotoran-kotoran, tetapi juga mengembalikan ritual haji sebagaimana ajaran Ibrahim. Ada ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan supaya membatasi kesalahan ritual yang tersebar luas pada periode awal Islam. Begitu juga perbuatan tidak senonoh dan memalukan dilarang.
Semua praktek pra Islam yang tidak sesuai dihapus diganti menjadi perilaku kesalehan, rasa takut kepada Allah, kemurnian dan kesederhanaan. Sekarang dalam ritual haji tidak ditemukan kirab besar-besaran dengan tingkah laku tidak baik yang mengasyikkan sebagaimana sebelumnya. Yang ada hanya mengingat Allah dalam setiap tahap dan langkah. Setiap pengorbanan hanya diabdikan kepadaNya. Haji semacam ini balasannya surga semata. Sebagaimana hadits Nabi SAW: “balasan haji mabrur tidak lain hanyalah surga”.
Wallahu a’lam bisshowab.


Disadur dari Short History of Hajj.

Kesederhanaan Hidup Kanjeng Nabi Muhammad SAW

Jika kita membandingkan kehidupan Kanjeng Nabi sebelum dan sesudah kenabian, kita akan menyimpulkan bahwa diluar akal kita kalau Kanjeng Nabi adalah Nabi palsu yang melaksanakan tugas kenabian untuk memperoleh keuntungan materi, kejayaan, keagungan dan kekuasaan.
Sebelum diutusnya menjadi rasul, Muhammad tidak bingung akan materi karena sudah dikenal luas sebagai pedagang yang sukses. Sehingga menikmati kesejahteraan finansial. Setelah tugas kenabian turun kehidupan menjadi berbalik. Kehidupan finansial memburuk. Untuk meyakinkan hal tersebut, mari kita ikuti pendapat dari Sahl bin Sa’ad salah satu sahabat Nabi. Ia berkata: ”Rasulullah tidak pernah terlihat makan roti dari tepung pilihan dari saat itu (kenabian) hingga beliau meninggal”. Sahabat Amr bin Haris mengatakan bahwa ketika Nabi wafat tidak meninggalkan uang sepeserpun atau sesuatu yang lain kecuali pelana putih, senjata dan sebidang tanah untuk wakaf. Kanjeng Nabi hidup seperti itu walau punya baitul mal dibawah kekuasaan beliau. Meninggalkan karya nyata berupa sebagian besar penduduk semenanjung Arab sudah memeluk Islam sebelum beliau wafat dan masuk dibawah kekuasaan Islam sesudah tahun ke-18 kenabian.
Apakah mungkin Kanjeng Nabi mengemban risalah untuk mendapatkan status sosial, kebesaran, dan kekuasaan? Hasrat menikmati status sosial dan kekuasaan biasanya diasosiasikan dengan makanan yang enak, baju mahal, istana mewah, penjagaan yang ketat dan kekuasaan tanpa batas.apakah indikator ini dimiliki Kanjeng Nabi? Gambaran sekilas berikut akan menjawab pertanyaan di atas.
Meskipun bertanggungjawab sebagai Nabi, guru, negarawan, dan hakim beliau memerah susu kambing sendiri, menambal pakaian, memperbaiki sepatu sendiri, membantu pekerjaan rumah dan mengunjungi masyarakat miskin yang sakit. Beliau Juga tidak segan-segan bekerja memindahkan pasir untuk menggali parit dengan para sahabat. Kehidupan beliau dihiasi dengan kesederhanaan dan rendah hati.
Kanjeng Nabi sangat sayang kepada umatnya. Sehingga umat juga sangat hormat kepada beliau. Tetapi penghormatan ini diarahkan kepada Allah bukan untuk beliau secara pribadi. Tentang hal ini Sahabat Anas mengatakan bahwa tidak ada orang yang cintanya melebihi cintanya Nabi kepada umatnya. Ketika Nabi datang kepada mereka, Nabi melarang mereka untuk berdiri memberi penghormatan.
Jauh sebelum Islam tersebar luas, dalam waktu yang lama dakwah Islam diliputi siksaan yang menyakitkan, penderitaan yang tak terperikan dialami Kanjeng Nabi dan pengikutnya namun beliau terima dengan lapang dada.
Seorang utusan dari pimpinan penyembah berhala, Otba datang kepada Nabi berkata,” jika kamu ingin uang, kita akan mengumpulkan uang untukmu sehingga kamu menjadi orang terkaya diantara kami. Jika kamu ingin menjadi pimpinan, kami akan menempatkanmu menjadi pimpinan kami dan kami tidak akan memutuskan sesuatu tanpa restumu. Jika kamu ingin menjadi raja, kami akan meletakkan mahkota kepadamu sebagai raja kami..”. hanya pintaku, kamu tidak mengajak orang-orang untuk berislam dan menyembah Tuhan yang Esa. Apakah tawaran ini diterima untuk mendapatkan keuntungan duniawi? Apakah Kanjeng Nabi ragu untuk menolak tawaran ini? Apakah beliau membuat tawaran strategis untuk mendapatkan tawaran lebih bagus? Beliau menjawab dengan membaca basmalah kepada Otba. Dan dilanjutkan membaca QS 41, 1-38.
Paparan di atas menunjukkan bahwa Kanjeng Nabi adalah seorang pimpinan yang rendah hati selama perjuangan penyebaran dakwah Islam.
Wallahu a’lam bisshowab.

Disadur dari The Simple Life of Muhammad

Selasa, 05 Januari 2010

Santri ke Harvard?

Santri ke Harvard?

Ada seorang santri dari Pondok Tremas Pacitan yang menjadi mahasiswa di Harvard Law School. Ya, dari Tremas Pacitan. Saya tahun 2004 pernah ke sana. Ketika itu ada program yang saya jalankan di sana. Jadi kebetulan saja ke sana. Dan ketika itu saya punya teman yang rumahnya dekat pondok Tremas. Saya melihat sepintas dari luar, pondok Tremas seperti pondok yang lain. Dan kalau tidak salah juga pengasuh pondok, Gus Lukman lebih suka menggunakan nama pondoknya dengan perguruan Islam bukan pondok pesantren. Dan pengasuhnya dipanggil Mbah Guru. Tapi ini perlu diteliti lagi.
Saya tahu nama Prof. K. Yudian Wahyudi, Ph.D dari hasil membaca tulisan di blognya Prof. Dr. Imam Suprayogo. Prof. Imam menyebutnya sebagai teman dekat, dan sangat bangga sebagai santri dari pondok Tremas. Karena dari menjadi santri bisa mengantarkannya menembus Harvard University. Sunggu luar biasa. Dan ini masih jarang seorang santri bisa menembus kesana. Subhanallah. Memang pondok tremas, namanya tidak diragukan lagi. Menelurkan banyak kiai besar di negeri ini. Seperti kiai munawwir krapyak jogya, kiai maksum lasem, kiai hamid pasuruan. Juga yang menjadi pejabat seperti prof. Mukti ali menjadi menteri agama, yang sekarang menjadi guru besar di uin jogja adalah yudian wahyudi dan musa asy’ari. Dan masih banyak yang lain. Bahkan salah satu pengasuhnya, Kiai Mahfudz bermukim di Mekkah menjadi ulama di sana dan menjadi guru dari beberapa kiai besar di negeri ini. Tercatat kiai hasyim asy’ari, kiai bisri syansuri, kiai wahab hasbullah dan juga kiai ahmad dahlan pendiri muhammadiyah juga pernah berguru kepada beliau.
Dilihat dari letak Tremas Arjosari memang daerah terpencil. Pacitan adalah kabupaten paling ujung dari propinsi jawa timur. Orang pacitan sendiri dalam hal pendidikan, perdagangan dan tidak menutup hal yan lain lebih dekat ke solo atau ke jogja. Juga dilihat dari bentuk bangunan pondok tidak ada yang terlalu istimewa sama seperti pondok-pondok yang lain. Tapi mengapa bisa menelurkan banyak santri yang istimewa. Ternyata dipondok ini menyimpan kedalaman batin yang luar biasa. Dan dari sisi ini pula bisa mementahkan anggapan masyarakat bahwa tujuan menyekolahkan anak di tempat yang punya gedung yang representatif, sarana dan prasarana yang memadai, biayanya murah dll. Disini ternyata banyak orang dari tempat yang jauh menimba ilmu karena kedalaman ilmu para pengasuh. Hampir sama ceritanya dengan pondok darul mustofa di Tarim Hadramaut Yaman.
Kebanggaan Prof. Yudian Wahyudi bukan isapan jempol belaka. Memang beliau merasa dibesarkan dari pondok ini. Masuk ke Tremas pada usia 12 tahun dari Balikpapan Kalimantan Timur. Mondok selama kurang lebih 6 tahun. Dari sini beliau mendapatkan kemampuan sebagaimana santri pondok lainnya. Namun menurut beliau kemampuan bahasa arab yang diperoleh dari Tremas bisa menjadi modal dasar penguasaan bahasa lainnya. Dan benar memang bahasa arab tiap hari diajarkan mulai dari pagi, siang malam dan biasanya ngaji selesai jam 23.00an. jadi tiap hari bergelut dengan bahasa arab. Dengan berbekal bahasa arab beliau juga mengusai bahasa Jerman dan Perancis.
Diceritakan liku-liku beliau selama menempuh S2 dan S3 di MicGill Montreal Canada. Pernah beliau didemo oleh teman mahasiswanya dan bahkan dosennya karena rendahnya kemampuan beliau dalam berbahasa inggris. Namun hal ini ditanggapinya dengan positif. Dijawab dengan karya nyata. Menulis artikel di jurnal internasional, menjadi narasumber diberbagai seminar internasional. Ketika presentasi di berbagai perguruan tinggi bergengsi di berbagai negara barat dan berbagai benua. Menjadi narasumber bersama para pakar tingkat dunia seperti hassan hanafi, ahmad abid al-jabiri, farid essak dll. Sehingga mengantarkannya bisa melanjutkan ke Harvard Law School. Salah satu prestasi tertinggi yang dimiliki dosen ptain di Indonesia. Dan baru kali ini ada satu-satunya di Indonesia.
Lalu bagaimana caranya?
Beliau melakukan jihad ilmiah. Ini salah satu cara yang beliau lakukan. Dan ternyata ini sangat manjur. Dari beberapa pilihan untuk menjawab demo dari teman-temannya. Jihad berasal dari kata jahada artinya kerja keras, bersungguh-sungguh. Tahajud sendiri juga berasal dari kata jahada. Jadi beliau mengerjakan sholat tahajud setiap hari lalu setelah itu tidak terus tidur tetapi membaca buku 100-200 halaman lalu dari itu diringkas menjadi satu sampai 2 halaman. Kalau ini dikerjakan setahun akan menjadi 720 halaman. Betapa tidak bertambah kemampuan kita bila bisa melakukan seperti itu. Jadi mungkin juga sebenarnya yang para kiai pesantren yang bisa menghasilkan ratusan karya monumental seperti hasil karya Kiai Ihsan Jampes Kediri yang monumental sampai sekarang. Bahkan menjadi referensi wajib tidak saja di pesantren di Indonesia tetapi juga menjadi referensi wajib di al-Azhar Mesir. Subhanallah.
Setelah beliau menyelesaiakn di Harvard Law School dan menjadi anggota profesor perguruan tinggi di Amerika dan menjadi dosen Islamic Studies disana beliau kembali ke UIN Jogya diberi amanah menjadi dekan fakultas syariah dan mendirikan pesantren nawesea yang santrinya terdiri atas mahasiswa pascasarjana. Latarbelakang berdirinya diantaranya untuk menumbuhkan para orientalis plus. Plus artinya beriman atau seorang muslim yang menguasai empat macam bahasa, lulusan islamic studies di negara barat, menjadi dosen di sana dan bahkan bisa di harvard law school. Itulah obsesi beliau dan beliau berdoa semoga ada salah satu dari para santrinya yang bisa memecahkan rekor seperti beliau dan berharap bisa terjadi sebelum tutup usianya. Sehingga dengan kata lain beliau sudah memenuhi kriteria minimal seorang orientalis.
Ada tanda-tanda keberhasilan dari para santri pondoknya. Sebelum milad pondok yang ketiga sudah ada santrinya yang menyelesaikan magister di Leiden sejumlah dua santri. Satu sedang menempuh dan tiga bersiap-siap menempuh di Leiden. Suatu prestasi tersendiri. Beliau telah berhasil menerjemahkan 53 buku bahasa arab, menerbitkan beberapa buku diantaranya jihad ilmiah dll. Menulis di jurnal internasional. Semoga bisa memberi inspirasi para generasi bangsa ini dalam berkarya.amin.
Wallahu a’lam bishowab.

Kamis, 27 Agustus 2009

kegiatan positif

Kegiatan positif

Biasanya pada bulan Juni akhir, lembaga pendidikan disibukkan dengan hal rutin semisal perpisahan siswa dan penyambutan siswa baru. Walaupun hal semacam itu sudah menjadi agenda rutin setiap tahun tetapi karena aktornya berganti menjadi kegagapan dan lain sebagainya. Tetapi bias kita sadari karena itu menjadi dinamis, ada pengkaderan dan saling memberdayakan pegawai. Jadi ada yang dipromosikan ada juga yang mutasi begitu juga sudah waktunya menjadi orang tua. Bukan berarti sudah tidak dibutuhkan tetapi menjadi penyegaran darah dan tenaga baru untuk keberlangsungan tenaga di masa yang akan dating.
Di akhir tahun pelajaran, setelah siswa menempuh Ujian Nasional ada jeda waktu bagi siswa yang cukup lama untuk menunggu hasil ujian. Agar tidak mubazir, pihak lembaga bias berinisiatif untuk mengadakan kegiatan yang bermanfaat bagi siswa. Misalnya pendalaman materi agama, kursus singkat misalnya kesehatan reproduksi remaja bagi siswa madrasah tsanawiyah atau aliyah dan sederajat, bimbingan computer dll. Atau juga menyelesaikan tugas siswa yang belum selesai. Hal ini perlu dilakukan agar siswa merasa tidak punya tanggungan dan beban. Karena bias menyebabkan siswa beraktivitas yang tidak bermanfaat. Misalnya kluyuran, bergaul yang tidak pas dan lain-lain. Kalau siswa madrasah ibtidaiyah atau yang sederajat bias juga diisi dengan membaca buku yang bermanfaat dan siswa menulis garis besarnya dalam tulisan. Sehingga siswa tidak ada kata tidak ada hari tanpa membaca.wallahu a’lam.

segeri lunasi hutangmu

Segera lunasi hutang-hutangmu

Pada suatu hari di suatu pengajian, pak kiai memberi tausiah yang berkaitan dengan hutang. Sebagaimana manusia sebagai makhluk social pastilah berhubungan dengan orang lain. Saling membantu dan memerlukan bantuan orang lain. Intinya manusia tidak bias hidup sendiri. Selalu membutuhkan kerjasama dengan yang lain. Contoh kecil saja. Kita sekarang ini bias makan dengan mudah setiap hari. Nasi sebagai kebutuhan pokok dihasilkan oleh petani yang bekerja di sawah. Itupun tidak satu orang petani atau satu orang saja. Dalam menggarap areal pertanian membutuhkan jasa tukang irigasi, tukang matun, ndaud, membersihkan rumput liar, membajak sawah, ketika akan panen butuh orang lain untuk menunggu padi ketika menguning bahkan ketika memanenpun butuh orang lain. Karena begitu banyaknya padi yang harus dipanen. Setelah hasil panen butuh alat perontok padi dan membawanya dengan truk pastilah butuh sopir.

Ketika padi sudah kering, butuh orang untuk menjadikannya beras siap untuk dimasak. Dari gambaran kecil di atas, sudah berapa puluh orang dan berbagai profesi yang dibutuhkan untuk menjadi dan menyiapkan makananan pokok kita. Jadi kita tidak bias sombong bias mencukupi kebutuhan diri pribadi dan keluarga dengan kemampuan sendiri. Pastilah ada bantuan dan jasa orang lain. Bersyukurlah kita masih ada orang lain yang membantu kita.

Dalam kehidupan social masyarakatpun kita terlibat hutang piutang. Hal ini terjadi karena terkadang kita butuh uang atau barang atau jasa yang kita butuhkan dalam keadaan mendesak. Salah satu jalan yang bias ditempuh adalah meminjam atau hutang pada orang atau pihak lain. Itulah yang namanya pinjam atau hutang. Hutang dibenarkan dan dibolehkan. Bahkan diceritakan dalam suatu hadits bahwa nabipun pernah hutang pada seorang yahudi. Jadi tidak ada masalah dengan hal tersebut. Hanya saja dianjurkan dalam al-Qur’an agar kita menulisnya agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

Pak Kiai bercerita agar kita sukses dalam kehidupan segeralah melunasi hutang atau pinjaman, janji, kesanggupan kepada orang lain. Kelihatan ini sepele tapi ternyata berat juga pelaksanaannya. Selama ini kita terlalu mudah hutang, tapi ketika tiba waktunya membayar sangat berat untuk melaksanakannya. Agar tidak lupa ada hal yang bias dilakukan yakni intropeksi diri seberapa kemampuan pendapatan kita sehingga kita tidak berat untuk membayar hutang. Kemudian hubungannya dengan pengaruh kesuksesan dalam hidup logika bias saja begini. Karena kita sanggup membayar, melakukan, menepati janji hal itulah sangat dibutuhkan olah orang atau pihak yang berhubungan dengan hal tersebut. Jadi orang lain sangat menunggu janji dan kesanggupan kita. Dan diakhirat hal itu akan menjadi penghalang kita masuk surga. Makanya hal tersebut diingatkan ketika ada jenazah yang mau diberangkatkan ke liang lahat. Apabila ada hal yang berkaitan dengan hak adami si mayit maka dimohon kepada para hadirin untuk berhubungan dengan ahli waris atau boleh juga kalau diikhlaskan oleh yang bersangkutan. Apalagi ada akad perjanjian yang belum dilaksanakan. Apabila tidak dilaksanakan maka akan menghalangi si mayit untuk masuk surga dan menjadi kegelisahan si mayit di alam barzah. Sedari itu semasa kita masih sadar perlu kita bertafakkur ada berapa hak yang belum kita tunaikan? Seberapa besar kemampuan kita untuk menunaikannya? Semoga bermanfaat dan kita bias menjalani kehidupan dengan baik dan tanpa beban. Wallahu a’lam.

sege

Minggu, 05 April 2009